Jejak Perkampungan Purba Rumah Tuo di Pedalaman Jambi

Wednesday, March 28, 2018

Jejak Perkampungan Purba Rumah Tuo di Pedalaman Jambi

Jejak Perkampungan Purba Rumah Tuo di Pedalaman Jambi

Kabar Berita Harian - Jejak Perkampungan Purba Rumah Tuo di Pedalaman Jambi

Kabar Berita Harian - Provinsi Jambi terletak di tengah Pulau Sumatera. Posisinya diapit gugusan Bukit Barisan di sisi barat dengan puncak tertinggi adalah Gunung Kerinci. Di sebelah timur menghampar dataran rendah gambut hingga berujung pantai.

Kedua sisi ini terhubung oleh Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera. Kondisi ini menjadikan Jambi sebagai daerah yang subur. Jambi pun dipercaya sudah banyak dihuni kelompok penduduk sejak ratusan tahun lampau. Kelompok-kelompok ini kemudian membentuk suku-suku Melayu Jambi.

Berdasarkan sejumlah catatan di Museum Negeri Jambi, salah satu suku tertua di Jambi adalah suku Bathin. Suku Bathin adalah keturunan Proto Melayu atau Melayu Tua.

Jejak tempat tinggal suku tertua di Jambi ini masih bisa dilihat hingga saat ini. Yang paling dikenal adalah sebuah perkampungan purba di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Jejak peninggalan Suku Bathin ini adalah Rumah Tuo.

Oleh warga sekitar, perkampungan purba ini biasa disebut dengan Dusun Tuo. Disebut Dusun Tuo karena di perkampungan ini terdapat sekitar 60 rumah tua peninggalan nenek moyang Suku Bathin.

Kawasan Dusun Tuo di Desa Rantau Panjang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin atau sekitar lima sampai enam jam perjalanan darat dari Kota Jambi.

Menuju perkampungan purba di Desa Rantau Panjang serasa kembali ke masa lampau. Deretan rumah penduduk bergaya panggung berderet di sisi kanan dan kiri jalan. Hijau perkebunan karet tua milik warga membuat perjalanan makin terasa segar dan sejuk. Belum lagi diselingi indahnya gundukan perbukitan di sekitarnya.

"Sekarang sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan, termasuk turis asing juga," ujar Andre, salah seorang warga Kota Jambi yang sudah dua kali berkunjung ke Dusun Tuo pada akhir 2017 lalu.

Trip Wisata Merangin

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Merangin, Dedi Darmantias, mengatakan di daerahnya ada dua lokasi wisata unggulan. Yakni Rumah Tuo dan kawasan Geopark Merangin yang saat ini tengah diusulkan agar diakui UNESCO sebagai warisan dunia.

"Agar lebih dikenal, kita sudah beberapa kali menggelar trip wisata bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi," ujar Dedi.

Kini, dengan gencarnya promosi yang dilakukan, wisatawan baik lokal maupun luar negeri mulai banyak yang datang ke Merangin. Khususnya ke Rumah Tuo dan Geopark Merangin.

Tak hanya promosi, Pemkab Merangin juga sibuk memperbaiki sejumlah fasilitas. Salah satunya adalah akses menuju lokasi wisata. Hal ini agar wisatawan menjadi betah dan mudah saat berkunjung.

Untuk menuju Kabupaten Merangin bisa ditempuh melalui jalur darat maupun udara. Bandara terdekat adalah Bandara Muarabungo di Kabupaten Bungo. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Bandara Muarabungo menuju Kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin.

Kedua adalah Bandara Sultan Thaha di Kota Jambi. Dari bandara ini dibutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan darat menuju Kota Bangko. Dari Kota Bangko dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan darat menuju kawasan Rumah Tuo.

Akses jalannya cukup mudah karena sudah bisa dilewati menggunakan mobil.

Rumah Tua Berumur 700 Tahun

Gugusan Rumah Tuo terlihat seragam dengan ciri khas panggung terbuat dari kayu. Jenis kayu yang digunakan sebagai rumah adalah kayu besi yang memang terkenal keras, makin tua makin kuat. Jenis kayu ini disebut sudah semakin langka di Jambi, bahkan di hutan sekali pun.

Bentuk rumah tampak memanjang ke samping dengan sebuah tangga menyamping di bagian depan. Sebuah pintu masuk dan beberapa jendela dengan ukuran besar. Bentuk rumah terlihat sederhana, tapi kokoh. Sejumlah ukiran menghiasi beberapa bagian rumah.

"Dulu atap Rumah Tuo dari ijuk, tapi sekarang diganti seng karena untuk mendapatkan ijuk saat ini sudah sulit," ucap Deni, salah seorang warga Dusun Tuo.

Dari sekian banyak rumah di Dusun Tuo, ada satu rumah yang kini dijadikan museum Suku Bathin. Meski statusnya museum, rumah tersebut masih ditinggali oleh keluarga Iskandar. Iskandar merupakan keturunan ke-14 Puyan Bungkul atau pendiri Dusun Tuo.

Menurut Iskandar, rumah yang ditinggalinya itu adalah rumah tertua di Dusun Tuo. Umurnya sudah mencapai 700 tahun. Awalnya, rumah tersebut merupakan kediaman raja.

Halaman rumah Iskandar tampak luas. Ini berfungsi sebagai tempat berkumpul warga maupun sebagai ajang gelaran tari semayo (tarian selamat datang) saat ada tamu yang bertandang. Warga Dusun Tuo memang dikenal ramah dan menjunjung tinggi nilai budaya gotong royong.

Iskandar menjelaskan, Rumah Tuo pertama kali dibangun pada masa Kerajaan Koto Rayo sekitar 700 tahun lalu. Pada prosesnya, rumah dibangun dengan kayu tanpa paku. Hanya menggunakan tali dan pasak.

"Awalnya hanya 19 rumah. Namun semakin bertambahnya warga, jumlah rumahnya bertambah," ujar Iskandar.

Menurut dia, penduduk di Dusun Tuo awalnya adalah penganut animisme yang percaya kepada roh halus. Namun, sejak tahun 1600-an, mereka sudah memeluk agama Islam.

Yang menarik, sekalipun tumbuh dan memiliki adat budaya tersendiri, warga Dusun Tuo ini tidak anti terhadap pengaruh atau asimilasi budaya. Sebagian besar mata pencaharian warganya adalah petani karet dan sawah.

Sejak beberapa tahun terakhir, Dusun Tuo di Desa Rantau Panjang ini dijadikan sebagai desa wisata oleh Pemkab Merangin. Sejumlah perbaikan fasilitas juga terus dilakukan di sana.



March 28, 2018

0 comments:

Post a Comment

Pria Malah Tewas Ditimpa Batu Besar Saat Lolos dari Letusan Gunung Vesuvius

Sekelompok arkeolog di situs bersejarah Pompeii menemukan kerangka manusia yang menjemput ajal dengan malang. Kepalanya terpenggal oleh...