Hacker Surabaya Kelas Teri yang Membobol 44 Situs Negara

Thursday, March 15, 2018

Hacker Surabaya Kelas Teri yang Membobol 44 Situs Negara

Hacker Surabaya Kelas Teri yang Membobol 44 Situs Negara

Kabar Berita Harian - Hacker Surabaya Kelas Teri yang Membobol 44 Situs Negara

Kabar Berita Harian - Tiga hacker Surabaya diciduk polisi. Mereka diduga meretas ribuan situs web dan sistem teknologi informasi di 44 negara.      
Ketiga tersangka berstatus mahasiswa di Surabaya. Usia mereka masih 21 tahun dan sama-sama tergabung dalam Komunitas Surabaya Black Hat (SBH).
Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu mengatakan, para tersangka berinisial NA, KPS, ATP, bersama komplotannya yang total enam orang, diduga meretas sekitar 3.000 sistem teknologi infomasi dan situs web selama tahun 2017.
Salah satu korbannya adalah sistem elektronik pemerintahan di Los Angeles Amerika Serikat. Karena itu, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat alias FBI ikut andil dalam penangkapan mereka.
Polisi mengungkap kasus tersebut setelah menerima informasi dari lembaga bentukan FBI, IC3 (Internet Crime Complaint Center) di New York, Amerika Serikat. Isinya, terdata puluhan sistem di berbagai negara rusak.
Setelah ditelusuri, ternyata pelakunya menggunakan IP Address yang berada di Indonesia, tepatnya Surabaya.
Para tersangka kini mendekam di Polda Metro Jaya, bukan di Surabaya. Ternyata, ini ada alasannya.
"Kasus disidik berdasarkan lokus kejadian perkara karena empat perusahaan nasional yang jadi korban berada di Jakarta. Perusahaan yang paling banyak terimbas itu di Jakarta," kata AKBP Roberto.
Dalam aksinya, umumnya hacker Surabayatersebut menyasar database perusahaan yang memiliki banyak pelanggan atau customer.
"Kebanyakan (yang diretas) bergerak di bidang bisnis, private business. Untuk situs pemerintahan, yang terdeteksi baru satu, The City of Los Angeles. Sistem elektronik, bukan situs yang diretas,"papar Roberto. Motifnya diduga ekonomi.
AKBP Roberto menjelaskan, dari aksinya itu, para hacker Surabaya mendapatkan keuntungan Rp 200 juta dalam setahun. Para pelaku biasanya meminta sejumlah uang dengan nominal bervariasi.
Berdasarkan penyelidikan, dari 3.000 sistem teknologi infomasi dan situs web yang diretas, hanya sekitar setengahnya yang memberikan tebusan. "Mereka menggunakan rekening Bitcoin dan Paypal," ujar Roberto.
Ia menambahkan, pihaknya masih mengejar tersangka lainnya. "Kami dapat informasi, salah satu tersangka pada tahun 2017 diduga meretas situs pemerintah Kota Jatim," kata Roberto.
"Karena mereka memasang halaman SBH. Ada kodenya jadi mengarah ke mereka." Sementara itu, Kanit IV Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Kompol Fian Yunus menyatakan, pihaknya masih mendalami kemungkinan pelaku berintah atas perintah pihak ketiga.
"Dugaan sementara motifnya ekonomi. Soal ada yang suruh atau tidak, kita sedang dalami," ujar Fian latar belakang aksi para hacker Surabaya.



March 15, 2018

0 comments:

Post a Comment

Pria Malah Tewas Ditimpa Batu Besar Saat Lolos dari Letusan Gunung Vesuvius

Sekelompok arkeolog di situs bersejarah Pompeii menemukan kerangka manusia yang menjemput ajal dengan malang. Kepalanya terpenggal oleh...